Kehidupan Anak Rntauan
Selasa, 21 Juli 2015
download gratis software
1. Paket bundle 1 , harga Rp. 499.000 anda akan mendapatkan software dan 200.000 database no HP valid di indonesia.
silahkan klik link berikut untuk pendaftarannya.
klik disini
2. Paket bundle 2 , harga Rp. 599.000 anda akan mendapatkan software dan 500.000 database no HP valid di indonesia.
silahkan klik link berikut untuk pendaftarannya.
klik disini
3. Paket bundle 3 , harga Rp. 699.000 anda akan mendapatkan software dan 1.000.000 database no HP valid di indonesia.
silahkan klik link berikut untuk pendaftarannya.
klik disini
Baiklah, cukup sekian email dari saya saat ini.
Saya akan mengirimkan email satu buah setiap
harinya, di jam yang sama, di lokasi yang sama. :)
Sampai jumpa besok ya.
Semoga bermanfaat,
Salam Sukses Luar Biasa ,
Jumat, 22 Mei 2015
LAPORAN
PRAKTIKUM METODE PENELITIAN SOSIAL EKONOMI
ANALISIS
PENDAPATAN PETANI RUMPUT LAUT DI DESA LEDETALO KECAMATAN LIAE KABUPATEN
SABURAIJUA NUSA TENGGARA TIMUR
OLEH
NAMA
:DOMINGGUS HURU WEO
NPM:1324010041
PROGDI :AGRIBISNIS
FAKULTAS
PERTANIAN UNIVERSITAS
PEMBANGUNAN
NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tingkat pertumbuhan
ekonomi nasional ditentukan oleh pelaksanaan dan hasil-hasil pembangunan
nasional serta kemampuan pemerintah dalam membangkitkan kegairahan dan
partisipasi seluruh rakyat dalam melaksanakan pembangunan. Semakin tinggi
pertumbuhan perekonomian, semakin besar pula sarana-sarana yang dapat
disediakan untuk kepentingan masyarakat.
Sarana yang
disediakan mencakup sarana pertanian yang dikembangkan untuk memberdayakan
kehidupan masyarakat petani yang ada di pelosok desa. Pelaksanaan
pembangunan pertanian
yang dilakukan untuk meningkatkan swasembada pangan membutuhkan kerja keras dan
kerja sama antara pemerintah dan petani serta masyarakat umumnya yang
berhubungan dengan sektor pertanian. Kerja keras dalam arti bahwa semua sumber
daya dan perhatian diarahkan pada program kerja guna meraih hasil yang
diinginkan.
Salah satu komoditi
unggulan sektor pertanian seperti rumput laut telah menjadi salah satu sumber
pendapatan bagi masyarakat nusa tenggara
timur desa Ledetalo,kecamatan Liae,kabupaten SaburaijuaRumput laut merupakan
komoditi yang potensial dalam memberikan
kontribusi pada pendapatan keluarga petani
Kegiatan usahatani
yang dilakukan masyarakat terdiri dari beragam usaha selain bercocok tanam
dilakukan juga kegiatan pemasaran hasil usahatani. Hasil usahatani sering dipasarkan secara langsung kepada pedagang
pengumpul dengan tingkat harga yang relatif rendah dibandingkan dengan
penjualan yang dilakukan oleh petani secara langsung ke pasar.
Budidaya tanaman rumput laut dilakukan masyarakat di
Desa Ledetalo karena wilayah ini sangat
cocok ditumbuhi tanaman rumput laut, sehingga usahatani rumput laut menjadi
salah satu kegiatan petani yang ada di Ledetalo, selain itu masyarakat lebih
menguasai cara budidaya rumput laut yang bersifat tradisional. Tidaklah heran
jika tanaman rumput laut diperhadapkan dengan masalah hama. Kondisi ini
menyebabkan masyarakat di Desa Ledetalo menbutuhkan bantuan pemerintah melalui
Dinas Pertanian untuk membantu petani rumput laut dalam mengatasi permasalahan
petani rumput laut tersebut dan sekaligus memberikan pemahaman kepada petani
guna meningkatkan produksi dan kualitas hasil panen rumput laut.
Di sisi lain petani selalu berusaha untuk meningkatkan
hasil produksi rumput laut dengan harapan untuk menjual produksi rumput laut
pada tingkat harga yang dapat memberikan keuntungan guna dapat meningkatkan
kesejahteraan keluarganya. Adanya kebijakan harga terhadap komoditi rumput laut
membuat kegiatan petani selalu berusaha untuk memasarkan komoditi rumput laut
kepada pasar secara langsung.
Jika dilihat dari segi perekonomian, pendapatan petani
rumput laut di Desa Ledetalo dapat dikatakan di atas rata-rata. Hal tersebut
dapat dilihat dari terpenuhinya kebutuhan sehari-hari hingga dapat membiayai pendidikan anak mereka
hingga ke perguruan tinggi.
Dari uraian yang dikemukakan di atas, maka penulis
tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul ”Analisis
Produksi, Pendapatan dan Pemasaran Rumput laut di Desa Ledetalo,Kecamatan
Liae,Kabupaten Saburaijua.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka yang menjadi rumusan
masalah dalam penelitian ini yaitu:
1.
Berapa besar produksi dan pendapatan petani rumput laut di Desa Ledetalo,Kecamatan Liae,Kabupaten
Saburaijua.
2.
Bagaimana pemasaran rumput laut yang ada Desa Ledetalo,Kecamatan Liae,Kabupaten
Saburaijua.
C. Tujuan Penelitian
Yang menjadi tujuan dalam penelitian ini yaitu:
1.
Untuk mengetahui berapa besar produksi dan pendapatan petani rumput laut Desa Ledetalo,Kecamatan Liae,Kabupaten
Saburaijua.
2.
Untuk mengetahui bagaimana pemasaran rumput laut Desa Ledetalo,Kecamatan Liae,Kabupaten
Saburaijua.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian
ini adalah:
1.
Bagi Pemerintah Kabupaten Saburaijua, dapat memberikan tambahan informasi dalam
rangka pembinaan dalam sektor pertanian utamanya para petani rumput laut.
2.
Bagi para petani dapat memberikan informasi dan wawasan serta dapat memberikan
masukan agar dapat meningkatkan produksi dan pendapatannya, serta dapat
memasarkan hasil pertaniannya secara tepat
di masa yang akan datang.
3.
Bagi peneliti lain dapat dijadikan sebagai bahan referensi dalam melakukan
penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini akan menganalisis produksi dan
pendapatan petani serta pemasaran rumput Desa Ledetalo,Kecamatan Liae,Kabupaten
Saburaijua Dalam penelitian ini hanya mencakup petani yang sudah memasarkan
hasil produksinya dalam sekali panen dengan kurun waktu satu tahun.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Konsep
Petani dan Pertanian
Petani adalah orang yang pekerjaannya bercocok tanam
pada tanah pertanian. Definisi petani menurut Anwas (1992 :34) mengemukakan
bahwa petani adalah orang yang melakukan cocok tanam dari lahan pertaniannya
atau memelihara ternak dengan tujuan untuk memperoleh kehidupan dari kegiatan
itu.
Pengertian petani yang dikemukakan tersebut di atas
tidak terlepas dari pengertian pertanian. Anwas (1992 :34) mengemukakan bahwa
pertanian adalah kegiatan manusia mengusahakan terus dengan maksud memperoleh
hasil-hasil tanaman ataupun hasil hewan, tanpa mengakibatkan kerusakan alam.
Bertolak dari pengertian di atas, dapat dikatakan
bahwa antara petani dan pertanian tidak dapat dipisahkan antara satu dengan
yang lainnya. Oleh karena itu perbedaannya hanya terletak pada obyek saja.
Menurut Slamet (2000 18-19), petani asli adalah petani
yang memiliki tanah sendiri, bukan penyakap maupun penyewa. Petani asli
misalnya ya, saya punya lahan sendiri,dikerjakan sendiri. Kalau yang palsu kita
cuma ketengan. Paling kita beli satu tahun, gitu. Sewa. Soalnya, bukan tanah
sendiri. Misalnya itu, sudah satu tahu kan sudah habis. Kalau sudah nggak bisa
bayar lagi ya orang lain. Ketika ditanya, jika seseorang yang memiliki tanah
tetapi pengelolaannya dikerjakan oleh buruh tani, apakah masih bisa disebut
petani asli, pak Slamet mengatakan,”ya bisa, itu namanya petani. Menurutnya,
sekecil apapun tanah yang dimiliki seorang petani, dia tetap disebut petani
asli jika dia memiliki tanah sendiri. Sebaliknya, meskipun seseorang mampu
menguasai tanah luas, tetapi tanah yang dikuasainya itu bukan miliknya sendiri,
dia tidak bisa disebut sebagai petani asli, melainkan petani ketengan.
Menurutnya, seluas apapun tanah yang dikuasai oleh petani ketengan, dia belum
bisa disebut orang kaya. Karena itu, tidak mengherankan jika seorang petani
ketengan tidak dapat meningkatkan status sosialnya dalam struktur masyarakat
desa bedasarkan penguasaan tanahnya.
Dari uraian pak Slamet, dapat disimpulkan, bahwa yang
dimaksud dengan petani asli adalah petani yang memiliki tanah sendiri-bukan
penyewa maupun penyakap-terlepas dari apakah tanahnya itu digarap sendiri
secara langsung maupun digarap oleh buruh tani.
Istilah petani asli dapat ditafsirkan sebagai
konstruksi masyarakat desa paling tidak konstruksinya tentang sosok petani
yang”sebenarnya”(the real peasant). Penambahan kata”asli”dalam
kata”petani”menunjukkan, bahwa petani yang memiliki tanah sendiri adalah
gambaran ideal sosok petani yang hidup dalam konstruksi persepsi masyarakat. Di
sini kita tidak bisa mendikotomikan ”asli” dan ”palsu“,
melainkan”citra ideal” dan ”kenyataan
empiri”. Ideal dalam konteks ini tidak berarti hanya hidup dalam dunia ide dan
harapan, karena bisa juga lahir dari sebuah kenyataan yang pernah ada. Itu
artinya, persepsi tersebut lahir dari sebuah pandangan historis tentang petani
yang pernah dikenal masyarakat di waktu lampau. Dengan kalimat lain, penambahan
kata”asli” dalam kata”petani” menandakan bahwa secara historis apa yang disebut
petani itu adalah orang yang menggarap dan mengelola tanah miliknya sendiri.
Singkatnya, pengertian petani secara genuine adalah orang yang memiliki
dan menggarap tanah miliknya sendiri (Slamet, 2000 :20)
Konseptualisasi petani asli menunjukkan, bahwa tanah
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan petani. Poin pentingnya
bukan hanya terlletak pada soal, bahwa tanah adalah alat produksi utama petani,
melainkan bahwa alat produksi itu mutlak dimiliki petani. Implikasinya, petani
yang tidak memiliki tanah sendiri tidak dianggap sebagai petani sejati atau
asli. Implikasi politisnya, petani mutlak dan mempertahankan dan menjaga hak
kepemilikannya atas tanah. Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa konsep
petani asli memiliki kaitan sosial-budaya-politik. (Sadikin M, 2001:31)
Pertanian (agriculture) bukan hanya merupakan
aktivitas ekonomi untuk menghasilkan pendapatan bagi petani saja. Lebih dari
itu, petani adalah sebuah cara hidup (way of life atau livehood)
bagi sebagian besar petani. Oleh karena sektor dan sistem pertanian harus
menempatkan subjek petani sebagai pelaku sektor pertanian secara utuh, tidak saja
petani sebagai homo economicus, melainkan juga sebagai homo socius dan
homo religius. Konsekuensi pandangan ini adalah dikaitkannya unsur-unsur
nilai sosial-budaya lokal, yang memuat aturan dan pola hubungan sosial,
politik, ekonomi, dan budaya ke dalam kerangka paradigma pembangunan sistem
pertanian secara menyeluruh. (Pantjar Simatupang, 2003:14-15)
Konsep pertanian tidak akan menjadi suatu kebenaran
umum, karena akan selalu terkait dengan paradigma dan nilai budaya petani
lokal, yang memiliki kebenaran umum tersendiri. Oleh karena itu pemikiran
sistem agribisnis yang berdasarkan prinsip positivisme sudah saatnya kita
pertanyakan kembali. Paradigma pertanian tentu saja sarat dengan sistem nilai,
budaya, dan ideologi dari tempat asalnya yang patut kita kaji kesesuaiannya
untuk diterapkan di negara kita. Masyarakat petani kita memiliki seperangkat
nilai, falsafah, dan pandangan terhadap kehidupan (ideologi) mereka sendiri,
yang perlu digali dan dianggap sebagai potensi besar di sektor pertanian.
Sementara itu perubahan orientasi dari peningkatan produksi ke orientasi
peningkatan pendapatan petani belum cukup jika tanpa dilandasi pada orientasi
kesejahteraan petani. Peningkatan pendapatan tanpa diikuti dengan kebijakan
struktural pemerintah di dalam pembuatan aturan/hukum, persaingan, distribusi,
produksi dan konsumsi yang melindung petani tidak akan mampu mengangkat
kesejahteraan petani ke tingkat yang lebih baik. Kisah suramnya nasib petani
kita lebih banyak terjadi daripada sekedar contoh keberhasilan perusahaan
McDonald dalam memberi”order” kelompok petani di Jawa Barat. Industri gula dan
usaha tani tebu serta usaha tani padi
kini”sangat rendah” dengan jumlah dan nilai impor yang makin meningkat.
(Moebyarto, 1997:28)
Jika kesejahteraan petani menjadi sasaran pembaruan
kebijakan pembangunan pertanian, mengapa kata pertanian kini tidak banyak
disebut-sebut? Mengapa Departemen Pertanian rupanya kini lebih banyak mengurus agribusiness
dan tidak lagi mengurus agriculture bukan Departement of Agribusiness?
Doktor-doktor Ekonomi Pertanian lulusan Amerika tanpa ragu-ragu sering
mengatakan bahwa farming is business. Benarkah farming (bertani)
adalah bisnis? Jawab atas pertanyaan ini dapat ya (di Amerika) tetapi di
Indonesia bisa tidak. Di Indonesia farming ada yang sudah menjadi bisnis
seperti usaha PT QSAR di Sukabumi yang kemudian bangkrut, tetapi bisa tetap
merupakan kehidupan (livehood) atau mata pencaharian di Indonesia
menghidupi puluhan juta petani tanpa menjadi bisnis.
B.
Konsep
Usahatani
Kegiatan ekonomi yang dapat menghasilkan barang dan
jasa disebut berproduksi, begitu pula dalam kegiatan usahatani yang meliputi
sub sektor kegiatan ekonomi pertanian tanaman pangan, perkebunan tanaman karas,
perikanan dan peternakan adalah merupakan usahatani yang menghasilkan produksi.
Untuk lebih menjelaskan pengertian usahatani dapat diikuti dari definisi yang
dikemukakan oleh Moebyarto (1997:41) yaitu usahatani adalah himpunan
ssumber-sumber alam yang terdapat pada sektor pertanian itu diperlukan untuk
produksi pertanian, tanah dan air, perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan di
atas tanah dan sebagainya, atau dapat dikatakan bahwa pemanfaatan tanah untuk
kebutuhan hidup.
Pengrtian di atas dapat dijelaskan bahwa pada mulanya
usahatani bertujuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga petani, segala jenis
tanaman dicoba, dibudidayakan. Segala jenis ternak dicoba, dipopulasikan,
sehingga ditemukan jenis yang cocok dengan kondisi alam setempat, kemudian
disesuaikan dengan prasarana yang harus disiapkan guna menunjang keberhasilan
produk usahatani.
Menurut Mosher (1995:38) mengemukakan usahatani adalah
bagian permukaan bumi dimana seorang petani dan keluarganya atau badan hukum
lainnya bercocok tanam atau memelihara ternak.
Menurut Soekartawi (1996:39) mendefinisikan usahatani
sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya
yang ada secara afektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang
tinggi pada waktu tertentu.
Moebyarto (1997:41) mengemukakan bahwa usahatani
adalah himpunan sumber-sumber alam yang terdapat di tempat itu yang dilakukan
untuk produksi pertanian. Jadi usahatani yang sesungguhnya tidak sekedar hanya
terbatas pada pengambilan hasil, melainkan benar-benar usaha produksi, sehingga
di sini berlangsung pendayagunaan tanah, investasi, tenaga kerja dan manajemen.
Tingkat keberhasilan dalam pengelolaan usahatani sangat ditentukan oleh keempat
faktor di atas.
Menurut Soekartawi (1996:24) menyatakan bahwa berhasil
di dalam suatu kegiatan usahatani tergantung pada pengelolaannya karena walaupun
ketiga faktor yang lain tersedia, tetapi tidak adanya manajemen yang baik, maka
penggunaan dari faktor-faktor produksi yang lain tidak akan memperoleh hasi
yang optimal.
Bagi seorang petani, analisa pendapatan merupakan
ukuran keberhasilan dari suatu usahatani yang dikelola dan pendapatan ini
digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bahkan dapat dijadikan
sebagai modal untuk memperluas usahataninya. Hal ini sejalan dengan pernyataan
Patong (1995:14) bahwa bentuk jumlah pendapatan mempunyai fungsi yang sama
yaitu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan memberikan kepuasan kepada petani agar
dapat melanjutkan usahanya.
Lebih lanjut dikatakan oleh Hernanto (1993:50) bahwa
besarnya pendapatan petani dan usahatani dapat menggambarkan kemajuan ekonomi
usahatani dan besarnya tingkat pendapatan ini juga digunakan untuk
membandingkan keberhasilan petani yang satu dengan petani yang lainnya.
Soeharjo dan Patong (1994:16) menyatakan bahwa
analisis pendapatan usahatani memerlukan dua hitungan pokok, yaitu keadaan
penerimaan dan keadaan pengeluaran selama jangka waktu yang ditetapkan.
Penerimaan usahatani berwujud tiga hal, yaitu:
1.
Hasil
penjualan tanaman, ternak, dan hasil ternak
2.
Produksi
yang dikonsumsikan keluarga
3.
Kenaikan
nilai industri
C.
Konsep Pendapatan
Pendapatan atau perolehan merupakan suatu kesempatan
mendapatkan hasil dari setiap usaha yang dilakukan, baik secara langsung maupun
tidak langsung. Pendapatan secara langsung diterima oleh setiap orang yang
berhubungan langsung dengan pekerjaan, sedangkan pendapatan tidak langsung
merupakan tingkat pendapatan yang diterima melalui perantara (Bambang, S.
1994:121)
Kriteria pendapatan yang ditetapkan dalam seminar
pendapan nasional dan salah satu pokok adalah batasan tingkat pendapatan untuk
tingkat pendapatan untuk kriteria pendapatan rendah sedang dan tinggi sebagai
berikut :
(Muchdarsyah
Sinungan, 2003: 16 )
1.
Kriteria
untuk pendapatan rendah
a.
Penduduk
yang pendapatan rendah yaitu Rp. 1. 000.000-Rp. 10. 000.000. pertahun atau
rata-rata Rp. 750. 000 perkapita perbulan.
b.
Tidak
memiliki pekrjaan tetap
c.
Tiadak
memiliki tempat tinggal tetep (Sewa)
d.
Tingkat
pendidikan yang tebatas
2.
Kriteria
untuk pendapatan sedang
a.
Penduduk
yang berpendapatan sedang yaitu Rp. 10. 000.000-Rp. 25.000.000 Rp. 1.250.
000.000 perkapita perbulan.
b.
Memiliki
pekerjaan tetep
c.
Memiliki
tepat tinggal yang sederhana.
d.
Memiliki
tingkat pendidikan.
3.
Kriteria
untuk pendapatan tinggi
a.
Penduduk
bependapatan tinggi yaitu Rp. 25. 000.000 Rp. 50. 000.000 atau rata-rata
Rp2.083.333 perkapita perbulan.
b.
Memiliki
lahan dan lapangan kerja.
c.
Memiliki
temapat tinggal tetap.
d.
Memiliki
tingkat pendidikan
Menurut Boediono (1992:32) mengemukakan bahwa hasil
pendapatan dari seorang warga masyrakat
adalah hasil penjualan dari faktor-faktor yang dimiliki kepada faktor
produksi. Jadi pendapatan adalah hasil penjualan faktor produksi atau aset yang
dimilikinya.
Dalam pengertian sederhana dapat di artikan sebagai
modal penerimaan produksi setelah dikurangi dengan biayah. Balas jasa diterima
sebagai jumlah faktor produksi yang di hitung untuk jangka waktu tertentu.
Disamping itu jumlah pendaatan mempunyai fungsi untuk memenuhi keperluan
sehari-hari dan memberikan kepuasan kepada petani agar dapat melanjutkan
produksinya.
Selanjutnya pendapatan usahahatani dikenalpula istilah
pendapatan kotor (gross farm income). Pendapatan kotor usahatani adalah nilai
produk usahatani dalam jangka waktu tertentu baik yang di jual maupun yang
tidak di jual.
Soekartawi, (1996:82) oleh karena itu pendapatan
usahatani adalah mencangkup semua hasil produksi. Pengertian pendapatan
tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pendapatan adalah nilai perolehan yang
diterima pekerja secara langsung sebai imbalan atas jasa dalam menyelesaikan
suatu pekerjaan.
D.
Pentingnya
Peningkatan Pendapatan
Untuk mengetahui makna atau pentingnya peningkatan
pendapatan, kita perlu mengetahui apa sebenarnya kegunaan pendapatan. Secara
garis besar pendapatan mempunyai kegunaan sebagai sumber pengeluaran konsumsi
dan sebagai alat untuk memperbaiki taraf hidup atau meningkatkan kesejahteraan
seseorang.
a.
Pendapatan
sebagai sumber pengeluaran konsumsi
Dalam perekonomian yang sederhana, pendapatan seorang
warga masyarakat pertama-tama akan dipergunakan sebagai pengeluaran konsumsi,
dan selebihnya ditabung. Hal ini sesuai dengan penjelasan Budiyono ( 1992:64)
bahwa dari segi kegunaannya, pendapatan seseorang dipergunakan untuk pengeluaran
konsumsi, sedangkan selebihnya adalah merupakan tabungan ( saving).
b.
Peningkatan
pendapatan sebagai usaha perbaikan taraf hidup dan peningkatan kesejahteraan.
Menurut Poerwadarminta (1986:376) taraf hidup adalah
tingkat kesejahteraan sedangkan kesejahteraan berarti kemakmuran dan kesenangan
hidup karena serba cukup (mewah, tidak kekurangan).
E.
Prinsip Biaya Dalam Usahatani
Prinsip-prinsip biaya dalam usahatani perlu
diperhatikan dengan tujuan menetapkan alternatif tentang pengeluaran biaya yang
bagaimana dapat memberikan keuntungan.
Prinsip-prinsip biaya tersebut anara lain :
a.
Prisip biaya
perimbangan (principle
of oportuniti cost )
b.
Prinsip
keuntungan komperatif ( priciple of
comperatife advantage )
c.
Prinsip
kenaikan hasil yang berkurang ( principle of diminishingreturn )
d.
Prinsip
kombinasi usaha (principle of combining
enterprises )
Dalam pengembangan usahatani secara umum tidak
terlepas dari persoalan biaya, sehingga seorang petani bila ingin memperoleh
keuntungan yang sesuai, maka diperlukan suatu perencanaan yang matang dalam
pengambilan keputusan untuk memilih usahatani yang cocok dan sesuai usaha tani.
Kartasapoerta (1988:65) menempatkan biaya sebagai
tempat yang penting dalam berproduksi sehinga tersedianya sejumlah biaya
benar-benar harus diperhitungkan sedemikian rupa agar produksi dapat
berlangsung dengan baik dan benar, karena biaya sangat berkaitan erat dengan
produksi dan selalu muncul dalam setiap kegiatan ekonomi.
Menurut Soeharjo dan Patong ( 1984:17 ) mengatakan
bahwa biaya mempunyai peranan penting dalam pengambilan keputusan pada kegiatan
usahatani. Besarnya biaya usahatani yang dikeluarkan untuk memproduksi sangat ditentukan oleh besaran biaya pokok
dari produksi yang dihasilkan. Pengeluaran usahatani secara umum meliputi biaya
umum dan biaya variabel. Menurut Soekartawi ( 1990 :76 ) mengemukakan bahwa
biaya tetap meliputi pajak dan sewa tanah, sedangkan yang temasuk biaya
variabel seperti pembelian pupuk, obat- obatan dan upah tenaga kerja. Biaya
produksi merupakan biaya- biaya yang terjadi untuk mengelolah bahan baku
menjadi produk jadi yang siap dijual. Contohnya adalah biaya depresiasi mesin
dan ekuipmen, biaya bahan baku, biaya bahan penolong, biaya gaji kariawan yang
bekerja dalam bagian-bagian, baik yang langsung maupun yang tidak langsung
berhubungan dengan proses produksi. Mulyadi (1993:14 )
Penggolongan biaya menurut hubungan biaya dengan
sesuatu yang dibiayai, biaya dapat di kelompokan biaya langsung dan biaya tidak
langsung. Biaya langsung adalah biaya yang terjadi, yang menyebabkan
satu-satunya adalah karena adanya satu yang dibiayai. Sedangkan biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadi
tidak hanya di sebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Mulyadi (1993:15 )
Penggolongan biaya menurut perilaku dalam hubunganya
dengan perubahan volume perubahan volume kegiatan, biya dapat dikelompokan
menjadi :
a.
Biaya
varibel yaitu biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan volume
kegiatan.
b.
Biaya semi
varibel, yaitu biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume
kegiatan.
c.
Biaya
semifized, yaitu biayah tetap untuk
tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah denga jumlah yang konstan pada
volume produksi tertentu.
d.
Biaya
tetap,yaitu biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisaran volume kegiatan
tertentu.
F.
Konsep Produksi
Penelitian ini berkaitan dengan konsep produksi yang
menujukan besarnya tingkat produksi rumput laut yang diperoleh petani, oleh
karena itu konsep produksi dijelaskan untuk memberikan definisi tentang produksi menurut para pakar
ekonomi. Secara umum produksi diartikan sebagai aktivitas untuk menciptakan
barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan
manusia. Jadi produksi adalah aktivitas yang menciptakan atau menambahkan
utility suatu barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Sofyan Assauri (1993:54 ) mengemukakan bahwa produksi
adalah kegiatan mencitakan atau menambah kegunaan (utility) sesuatu barang atau menambah kegunaan (utility) sesuatu
barang atau jasa dengan mengunakan sumber- sumber (tenaga
kerja,mesin,bahan-bahan, dan modal) yang ada.
Sedangkan Wasis (1992:40) menjelaskan bahwa roduksi
adalah merubah bahan atau komponen (produksi) menjadi barang jadi. I Gusti
Ngurah (1994:19 )mengemukakan bahwa produksi adalah sebagai hasil proses
aktivitas ekonomi dengan manfaat sumberdaya yang tersedia serta memiliki
potensi sebagai faktor produksi.
Hermanto (1994:32) mengemukakan bahwa produksi adalah
suatu proses untuk memenuhi kebutuhan untuk penyelengaran jasa-jasa lain yang
dapat memenuhi kebutuhan manusia. Oleh karena itu produksi merupakan tindakan
manusia. Oleh karena itu produksi merupakan tindakan manusia untuk menciptakan
atau menambah nizlai guna barang sesuai dengan yang dikehendaki.
Menurut Mubyarto (1996 :25) menyatakan bahwa produksi
petani adalah hasil yang diperoleh sebagai akibat bekerjanya faktor produksi
tanah, modal, tenaga kerja simultan.
Dalam melakukan usahatani, seorang pengusaha atau
seorang petani akan selalu baerfikir untuk mengalokasikan input seefisien
mungkin untuk memproduksi yang maksimal. Cara berfikir yang demikian adalah
wajar, mengingat petani melkukan konsep bagaimana memaksimumkan keuntungan.
Dalam ilmu ekonomi cara berfikir demikian sering disebut dengan pendekatan
maksimumkan keuntungan atau profit mazimition. Dalam kaitan itu
Kartasapoerta (1988:43) mengemukakan bahwa
produksi merupakan hasil yang diperole yang berkaitan dengan
proses berlangsungnya proses produksi. Kuantitas dan kualitas hasil (output )
tersebut tergantung pada keadaan input yang telah diberikan. Jadi antara input
dan output terdapat kaitan yang jelas.
Dalam bidang pertanian istilah yang dimaksud yaitu
hasil pekerjaan beberapa faktor produksi secara sekaligus. Moebyarto. (1996:30)
oleh karena itu faktor-faktor ekonomi yang berpengaruh terhadap produksi
khususnya lahan, dan modal, tingkat kesuburan, dan faktor-faktor lain yang
melekat dalam faktor lahan itu sendiri.
Soekartawi dan Patong (1984: 78 ) mengemukakan bahwa
dalam menghitung produksi usahatani biasanya dibedakan antara konsep produksi
per unit usahatani ( cabang usahatani ) oleh produksi total uasaha tani adalah
kualitas hasil yang dipergunakan di suatu jenis usahatani selama periode
tertentu.
G.
Pengertian Pemasaran
Menurut Philip Khotler (1996)
mengemukakan bahwa”Marketing is a social
and managerial process by which individuals and groups obtain what they med and
want throught creating offering and exacahnging produtcts of value which other”.
Pemasaran adalah suatu proses
sosial dan manejerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa
yang mereka butuhkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertahankan produk
yang bernilai dengan produk yang lain.
Definisi pemasaran ini
berdasarkan pada konsep inti yaitu kebutuhan (needs), keinginan (wants),
dan permintaan (demands), produk
(barang, jasa dan gagasan) nilai biaya, kepuasan, petukaran dan transaksi,
hubungan dan jaringan pasar, serta pemasaran dan prospek.
Kemudian Basu Swastha (1999)
mendefinisikan pemasaran sebagai sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang
ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan
mendistribusikan barang dan jasa yang dapat menawarkan kebutuhan kepada pembeli
yang ada maupun maupun pembeli
potensial.
Dari kedua pengertian di atas
dapat kita simpulkan bahwa pemasaran merupakan keseluruhan sistem dari
kegiatan-kegiatan bisnis yang dinamis dan terintegrasi yang di tunjukan untuk
merencanakan, menentukan harga merupakan sistem dan mendistribusikan
produk-produk yang dapat memuaskan keinginan pasar dalam langkah mencapai
tujuan organisasi.
2.1.8 Pengertian Saluran Pemasaran Dan Jenis-Jenis
Saluran Pemasaran
Pemasaran hasil pertanian
merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan
kegiatan pemasaran suatu produk, kita harus mempertimbangkan saluran pemasaran
yang dapat dipakai untuk menyalurkan produk dari produsen ke konsumen. Menurut
Philip Khotler (1996) mengemukakan bahwa saluran pemasaran adalah serangkaian
organisasi yang saling tergantung dan terlibat dalam proses menjadikan suatu
produk atau jasa siap untuk digunakan atau di konsumsi.
Sedangkan menurut Basu Swastha
(1999) saluran pemasaran adalah saluran yang digunakan oleh produsen untuk
menyalurkan barang tersebut dari produsen sampai kekonsumen atau pemakai
industry.
Dari pengertian diatas dapat
disimpulkan bahwa saluran pemasaran adalah serangkaian organisasi yang saling
tergantung dalam rangka proses penyaluran barang dari produsen kepada konsumen.
suatu barang dapat berpindah
melalui beberapa tangan sejak dari produsen sampai kepada konsumen. Ada
beberapa saluran distribusi yang dapat digunakan untuk menyalurkan
barang-barang yang ada.
Jenis saluran distribusi dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Saluran distribusi langsung, Saluran ini merupakan saluran distribusi yang
paling sederhana dan paling rendah yakni saluran distribusi dari produsen ke
konsumen tanpa amenggunakan perantara. Disni produsen dapat menjual barangnya
melalui pos atau mendangi langsung rumah konsumen, saluran ini bisa juga diberi
istilah saluran nol tingkat (zero stage
chanel).
b. Saluran disrtibusi yang menggunakan satu perantara yakni melibatkan
produsen dan pengecer. Disini pengecer besar langsung membeli barang kepada
produsen, kemudian menjualnya langsung kepada konsumen. Saluran ini biasa disebut dengan saluran satu tingkat (one stage chanel).
c. Saluran distribusi yang menggunakan dua kelompok pedagang besar dan
pengecer, saluran distrinusi ini merupakan saluran yang banyak dipakai oleh
produsen. Disini produsen hanya melayani penjualan dalam jumlah besar kepada
pedagang besar saja, tidak menjual kepada pengecer pembelian oleh pengecer
dilayani oleh pedagang besar dan pembelian oleh konsumen hanya dilayani oleh
pengecer saja. Saluran distribusi semacam ini disebut juga saluran distribusi
dua tingkat (two stage chanel).
d. Saluran distribusi yang menggunakan tiga pedagang perantara. Dalam hal ini
produsen memilih agen sebagai perantara untuk menyalurkan barangnya kepada
pedagang besar yang kemudian menjualnya kepada took-toko kecil. Saluran
distribusi seperti ini dikenal juga dengan istilah saluran distribusi tiga
tingkat (three stage chanel), Philip
Kotler (1996).
2.1.9 Beberapa Fungsi Dalam Proses Pemasaran Hasil
Pertanian
Dalam proses pemasaran, hasil
pertanian ada beberapa fungsi yang harus ditampung oleh pihak produsen dan
elemen-elemen terlibat dalam penyaluran yang seringkali funsi-fungsi ini
menimbulkan masalah yang harus diperlukan oleh produsen maupun elemen-elemen
yang terlibat dalam rantai pemesaran. Fungsi-fungsi
tersebut terdiri dari :
a.
Pembelian dan pengumpulan ini merupakan fungsi
ysng bersangkutan dengan pemendihan atau memiliki sejumlah barang yang
dimaksudkan sebagai persedian produksi atau untuk mencukupi kebutuhan. Dalam
menganalisa pembelian ini ada beberapa tindakan yang harus diperhatikan yaitu
penatapan kebutuhan, pencarian sumber kebutuhan, perundingan harga dan
transaksi resmi.
b.
Penjualan dan penyebaran ini merupakan kegiatan
untuk mencari dan mengusahakan agar barang-barang yang telah diproduksi atau
dimiliki dapat dipasarkan secara menguntungkan.
c.
Pengangkutan dan transportasi, merupakan suatu
fungsi yang berarti memindahkan suatu produk dari sumber penghasilanya ke pasar
atau konsumen pada waktu tertentu yang tepat disesuaikan dengan kebutuhan dan
kepentingan pasar atau konsumen. Jadi transportasi menciptakan kegunaan tempat
dan kegunaan waktu.
d.
Menyimpan produk (storage), fungsi ini merupakan fungsi yang hampir ditemukan pada
setiap lembaga pemasaran, ini merupakan suatu pengumpulan sementara produk
sebelum dipasarkan.
e.
Pengolahan produk, dalam tataniaga pemasaran
disini bukan pengolahan bentuk, ukuran luar dan sebagainya, tetapi berupa
penyortiran produk-produk tersebut.
f.
Pendanaan atau pembiayaan (financing), yaitu penyediaan sejumlah uang guna suatu transaksi
jual beli produk.
g.
Resiko, merupakan fungsi yang bersangkutan
dengan kerugian yang timbul akibat kurang matangnya pertimbangan dalam
pembuatan rencana.
h.
Keterangan pasar, yaitu fungsi pencarian
informasi tentang pasar yang diperlukan untuk penyusunan kebijakan pemasaran
produk, Mubyarto (1997)
2.1.10 Pengertian Margin Pemasaran dan Faktor Yang
Mempengaruhi
Mergin pemasaran merupakan
perbedaan antara harga yang diterima oleh petani produsen dengan harga yang
harus dibayarkan oleh konsumen akhir. Besar kecilnya perbedaan harga ditingkat
konsumen akhir akan dipengaruhi oleh:banyak lembaga pemasaran yang ikut dalam
proses pemasaran, panjang atau pendeknya saluran yang dilalui dan jarak pasar,
Nurlan F (1986).
Menurut Khol dan Uhl dalam Astin
Akitasan (2004) mendefinisikan marjin pemasaran merupakan rasio antara nilai
tambah yang diperoleh pelaku pemasaran tertentu dan harga yang dibayarkan oleh
konsumen.
Sementara itu Downey dan Trocke (1981) margin pemasaran
adalah perbedaan antara harga penjualan produk pada dua tahapan yang berurutan
dalam saluran distribusi pemasaran produk yang bersangkutan.
Berdasarkan beberapa pengertian
diatas, dapat disimpulkan bahwa margin pemasaran merupakan perbedaan atau
selisih antara harga penjualan yang diterima setiap lembaga pemasaran pada dua
tahapan yang berurutan dalam saluran pemasaran mulai dari produsen sampai
kepada konsumen akhir.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya kecilnya
margin tata pemasaran antara lain banyaknya lembaga yang terlibat dalam proses
pemasaran produk tersebut, atau panjang produk yang dilalui untuk mencapai
pasar.
Menurut Rashit dan Caudry dalam
Basirun dkk (1991) mengumumkan bahwa ada dua unsur yang mempengaruhi margin
pemasaran , yaitu:1) biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan fungsi tata niaga
seperti mengumpulan, pengolahan, penyimpanan, pengepakan, pengangkutan dan
lain-lain, 2) besar keuntungan dari pasar-pasar perantara atau keuntungan
pedagang perantara. Selanjutnya Buse dan Brandow dalam Basirun dkk (1991) telah
melakukan penelitian tentang hubungan antara volume, biaya dan harga terdapat
margin dengan menggunakan ordinary square
regrestion. Dimana dari hasil ketiga variable yang diteliti memperlihatkan
pengaruh yang signifikan terhadap margin tata niaga pemasaran.
2.2.
Kajian
Empirik
Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian
ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Wa Ode Astuti (2006) dengan
judul”Analisis Pemasaran Rumput Laut Di Kecamatan Kulisusu Kabupaten Muna”.
Dengan menggunakan analalisis marjin pemasaran. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa marjin pemasaran rumput laut di kecamatan kulisusu kabupaten
muna sangat besar.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Yusri (2007)
dengan judul”Studi Pendapatan Kakao
Kecamatan Mowewe Kabupaten Kolaka”. Dengan
menggunakan analisis π = TR –TC
dimana π adalah
Pendapatan Bersih, TR= Total Revenue
(Pendapatan Kotor), TC= Total Cost
(Totaol Biaya). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pendapatan
bersih yang diperoleh petani kakao sesuai kriteria yang ditetapkan BPS,
tergolong masyarakat berpendapatan tinggi.
2.3.
Kerangka
Pemikiran
Berdasarkan kajian teoritis di atas, maka kerangka
pikir yang mendasari penelitian ini adalah bahwa budidaya rumput laut yang
dilakukan petani rumput laut di desa
Ledetalo keamatan Liae kabupaten Saburaijua dimaksudkan untuk memperoleh
produksi, pendapatan dan menjelaskan pemasaran.
Dimana ketiga (produksi, pendapatan dan pemasaran)
variable diatas akan dianalisis menggunakan alat analisis deskptif untuk menjawab
permasalahan yang dikemukakan sehingga dapat memberikan kesimpulan dan
rekomendasi peningkatan pendapatan untuk
kesejateraan petani rumput laut di desa
Ledetalo kecamatan Liae kabupaten Saburaijua Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada skema kerangka pikir penelitian di bawah ini:
|
Petani rumput laut
|
di desa
Ledetalo keamatan Liae kabupaten Saburaijua
|
Produksi
|
|
pemasaran
|
|
Pendapatan
|
|
Analisis
|
|
Hasil dan pembahasan
|
|
Kesimpulan dan Rekomendasi peningkatan Pendapatan
|
Gambar 2.1
Skema Kerangka Pikir Penelitian
2.4.
Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian
ini merumuskan hipotesisi sebagai berikut:
1.
Diduga bahwa
produksi dan pendapatan petani rumput di
desa Ledetalo keamatan Liae kabupaten Saburaijua relatif besar.
2.
Diduga bahwa
pemasaran rumput laut yang ada di desa
Ledetalo keamatan Liae kabupaten Saburaijua menggunakan saluran distribusi
langsung dan saluran distribusi satu tingkat.
BAB III
METODE
PENELITIAN
B.
Rancangan
Penelitian
Sesuai dengan penelitian yaitu analisis produksi dan
pendapatan petani rumput , maka
penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu penelitian yang
menggambarkan tingkat produksi, pendapatan petani dan pemasarannya.
C.
Populasi dan
Sampel Serta Teknik Pengambilan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah adalah seluruh
petani rumput laut yang ada di Desa Wawoncusu yang berjumlah 23 orang. Karena
jumlah populasi yang terbilang sedikit maka pengambilan sampel dalam penelitian
ini dilakukan secara sensus yakni seluruh jumlah petani rumput laut yaitu 23
orang dijadikan sebagai sampel.
D.
Jenis dan
Sumber Data
Jenis data yang dipergunakan dalam penelitian ini
yaitu :
1.
Data primer
adalah data yang diperoleh langsung dari responden yaitu petani rumput laut di Desa Ledetalo.
Data-data tersebut adalah :
a.
Luas lahan
b.
Jumlah
produksi
c.
Harga jual
d.
pemasaran
e.
Biaya-biaya
2.
Data
sekunder adalah data yang diperoleh dari instansi terkait baik pemerintah,
seperti BPS, kantor kecamatan, kelurahan maupun swasta yang diharapkan dapat
mendukung pelaksanaan penelitian ini seperti data batas wilayah dan luas
wilayah.
E.
Variabel dan
Definisi Operasional Variabel
1.
Harga yang
dimaksud adalah nilai jual produk rumput laut yang digunakan oleh petani dalam
pemasaran rumput laut, diukur dengan satuan rupiah.
2.
Komoditi
yang dimaksud adalah hasil produksi tanaman rumput laut yang menjadi salah satu
sumber pendapatan bagi petani,diukur dengan satuan buah.
3.
Biaya
dimaksud adalah pengeluaran petani yang dikeluarkan untuk kegiatan usahatani
dan kegiatan pemasaran rumput laut yang dihitung dalam satuan rupiah.
4.
Pendapatan
dimaksud adalah pendapatan kotor yang dikurangi dengan biaya produksi yang
dikeluarkan petani ditambah biaya pemasaran dari petani tersebut, dihitung
dengan satuan rupiah.
5.
Petani
dimaksud adalah masyarakat tani yang melakukan kegiatan usahatani rumput laut
di di desa Ledetalo kecamatan Liae
kabupaten Saburaijua, dalam satuan orang.
6.
pemasaran
adalah Saluran distribusi langsung dari produsen ke konsumen dan saluran satu
tingkat dari pengecer besar langsung membeli barang kepada produsen, kemudian
menjualnya langsung kepada konsumen .
F.
Analisis
Data
Metode yang digunakan untuk menganalisis data dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Metode
analisis deskriptif yaitu metode analisis untuk mengetahui pendapatan petani
rumput laut di Desa Wawoncusu, data yang telah dikumpulkan akan dianalisis
dengan menggunakan analisis pendapatan dengan rumus :
Π = TR-TC
Dimana :
Π = Keuntungan yang diperoleh petani rumput laut
(pendapatan bersih)
TR = Total
harga jual yang diterima petani rumput laut (pendapatan kotor)
TC = Total
biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan bertani dan pemasaran
2.
Metode
analisis deskriptif kualitatif yaitu metode analisis dimana data yang diperoleh
selanjutnya diolah dan dianalisis untuk ditarik suatu kesimpulan.
DAFTAR PUSTAKA
Astin Akitasan, 2004, Margin Pemasaran, LP3ES-UI-Jakarta.
Anwas
Adiwilaga, 1992, Pengantar
Ilmu Pertanian, Rineke Cipta, Jakarta.
Bambang, S. 1994, Analisis Laporan
Keuangan , LP3ES-Jakarta.
Basirun dkk, 1991, Analisis Pemasaran, Bumi Aksara, Jakarta.
Basu
Swastha, 1999, Jenis-Jenis Pemasaran , Intimedia,
Jakarta.
Boediono, 1992, Pengantar Ekonomi Makro,
BPFE-UGM, Yogyakarta.
Downey dan
Trocke, 1981, Teori Marketing, , Bina Aksara, Jakarta.
Gugun
Kismono, 2002, Sosiologi
Kemasyarakatan, Percetakan Nasional, Jakarta.
Hermanto, 1995, Pengelolaan Hasil-hasil
Pertanian, Intimedia, Jakarta.
Hernanto, 1993, Teori Ekonomi, Bina
Aksara, Jakarta.
I Gusti
Ngurah, 1994, Teori
Ekonomi Makro dan Pembangunan Pertanian, BPFE-UGM, Yogyakarta.
Kamaluddin, 2001, Perilaku Keluarga dalam
Organisasi, Gramedia, Jakarta.
Kartasapoetra, 1988, Konsep Biaya, Bina
Aksara, Jakarta.
Moebyarto, 1997, Pengantar Ilmu Pertanian,
LP3ES-UGM, Yogyakarta.
Mosher, 1995, Pertanian (Agrikultur) Cetakan
Kelima, Bina Aksara, Jakarta.
Muchdarsyah
Sinungan, 2003, Produktivitas
dan Pendapatan Masyarakat, Bumi Aksara, Jakarta.
Mulyadi, 1993, Teori Biaya dan Produksi,
LP3ES-UI-Jakarta.
Nurlan F, 1986, Indicator Keberhasilan Dalam Pemasaran. , UI-Press, Jakarta.
Pantjar
Simatupang, 2003, Petani
dan Permasalahan Petani, Rajawali Press, Jakarta.
Patong, 1995, Perencanaan Usahatani,
Pustaka Presindo, Jakarta.
Philip Khotler , 1996, Manejemen
Marketing, Cetakan
Kelima, Bina Aksara, Jakarta.
Poerwadarminta, 1986, Kesejateraan Dan Kemakmuran Kelima, Bina Aksara, Jakarta.
Sadikin M., 2001, Pengembangan Sektor
Pertanian (Penanganan Komoditi Unggul), UGM Press, Jakarta.
Siagian, 1992, Pembangunan Ekonomi
Masyarakat Indonesia, Bina Aksara, Jakarta.
Simanjuntak, 1999, Kesejahteraan dan
Kesempatan Kerja di Indonesia, Jakarta Press, Jakarta.
Slamet, 2000, Agrikultur,
LPN-IPB-Bogor.
Soeharjo dan
Potang, 1994, Ekonomi
Pertanian Indonesia, Angkasa, Bandung.
Soekartawi
dan Potang, 1984, Usahatani
Untuk Penelitian dan Pengembangan Usaha Kecil, UI-Press, Jakarta.
Soekartawi, 1996, Manajemen Usahatani,
Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Sofyan
Assauri, 1993, Pemasaran
Hasil-Hasil Pertanian, Rineka Cipta, Jakarta.
Supanto J, 1997, Statistik Pendapatan
Nasional dan Aplikasi Pembangunan, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Wasis, 1992, Pembangunan Ekonomi,
Salemba Empat, Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)
